Sunday, 12 October 2014

Balada Gerhana (Vol. 1)

Edisi Cerbung nih teman-teman hehe. Silahkan dinikmati, :)


Siang itu, Dista, sengaja menjatuhkan handphonenya di depan Budy. Mungkin untuk menunjukkan kepada Budy bahwa dirinya masih nyata ada dihadapannya. Entah mengapa, Dista sudah merasa tak nyaman dengan keadaan di kelas. Rasanya semua orang memojokkannya. Menganggap apa yang terjadi lalu itu sudah tak perlu diungkit lagi. Dan dengan sengaja menyakiti hatinya. Memang Budy sudah dengan Nana sekarang. Tapi bagi Dista, ini adalah suatu yang hal yang sulit, setiap hari harus melihat, Budy dan Nana bercengkrama. Padahal dulu, itu masih dengannya. Setengah tahun yang lalu.

-.-.-

Dista :

Aku masih ingat setengah tahun yang lalu saat terakhir kita bicara. Mungkin aku bodoh melepaskanmu begitu saja, dan memilih dia begitu saja. Padahal aku tau, kamu yang nyata buatku bersemi indah. Mungkin juga salah caraku dekat denganmu dulu, padahal waktu itu aku masih dengannya. Salah siapa kalau aku juga membiarkan rasa ini timbul karena 'witing tresna jalan saka kulina' dan akupun tahu kamu juga begitu denganku. Mungkin ini juga terpaut, karena kamu ketua kelas, yang notabenenya harus mengayomi setiap anak di kelasmu, termasuk aku.

-.-.-

Dista melamun begitu dalam, di bangkunya, hingga dia lupa bahwa bel pulang sekolah telah berbunyi. Pelajaran di jam terakhir tadi memang kosong, sehingga dia habiskan untuk melamun walaupun teman sebangkunya, Nurul, dengan celotehnya yang riang masih saja mengganggu lamunannya.
Akhirnya di kelas hanya tinggal 4 orang, Dista yang merapikan bukunya, bersiap pulang. Lalu di sudut kelas ada Budy dan Nana yang sedikit bercanda-canda. Ada Aldo yang sibuk memperhatikan Dista dari saat dia melamun,
"Dis, bukumu tuh jatuh !" Aldo mengulurkan buku Dista yang jatuh kepadanya.
"Eh, iya. Makasih ya Do, hampir aja ilang ni buku diaryku" Sambil tersenyum manis. berjalan menuju pintu keluar kelas. Diikuti Aldo.
"Yoi, Dis. Sama-sama, cantik."
"Hah, apaan sih Do, kebanyakan nggombal nih kamu." Sambil menjulurkan lidahnya pada Aldo. Sejenak dia lupa lamunannya.
"Eh, Dis, kamu pulang ama siapa?"
"Gak tau nih, Do. Naik angkot paling. haha. Biasalah."
"Katanya besok ulangan matematika ya Dis? Duh, ajarin aku dong, Dis. Ngga paham nih Dis."
"Iya, Do. Bab 2 kan ya? Mau ajarin kapan nih, Do? Mumpung aku free nih, haha."
"Beneran, Dis? Sekarang aja gimana?"
"Yauda deh, ayo."

Dari ujung sana, Budy memperhatikan percakapan itu. Sejenak Nana terdiam, merasa diacuhkan olehnya.
"Hei, Bud"
"Eh iya, Sayang, hehe"
"Kenapa dilihatin merekanya? Cemburu ya, lihat mereka ngobrol?"
"Kamu ngomong apa si sayang, kok gitu mikirnya? Ya, enggaklah, Aku kan udah sama kamu sayang."
"Aku kan cemburu, kalo kamu lihatnya gitu ke mereka."
Duh, jangan ngambek dong sayang. Kamu cantik lho kalo senyum sayang."
Dan Nana pun meleleh. Budy pun mengajak Nana pulang.

to be continued

No comments:

Post a Comment