Monday, 19 October 2015

Sejenak dalam malam menyepi,

Terlampau sering kau buang air mataku,
Tak pernah kau tau dalamnya rasa cintaku,
Tak banyak inginku,
jangan kau ulangi, menyakiti aku,
sesuka kelakuanmu, ku bukan manusia yang tidak berfikir,
berulang kali kau lakukan itu padaku,

Mengapa kau benar dan aku selalu salah?


Malam begitu sepi,
indah dibalut kesendirian,
aku menjatuhkan diriku dalam balutan kesedihan,
kembali tetesan air tak terduga menetes,
tak mau berhenti semenjak ku tau itu kamu.

Setidaknya tak ku ucapkan kata-kata kotor ketika kita beradu,
Argumenmu yang setidaknya memang benar,
Yah aku tak punya hak dengan semua yang kau punya,
bahkan mungkin mereka bagian dari hidupmu,

Tapi kalau boleh jujur,
aku terluka ketika begitu banyak makhluk lawan jenis di semua bagian dunia mayamu,
yah bukan apa-apa sih, pasalnya aku hanya takut kamu kembali seperti kamu yang dulu,
aku tau kamu sudah lama berubah,
hanya saja melihat dengan mataku sendiri, ketika dengan banyak hal yang tak kau ijinkan untukku,
malah kau ijinkan dirimu begitu,
aku memang tak punya hak,
tapi lantas apakah cemburu saja tak boleh untukku.
apakah lantas aku tak boleh meratapi hati ini yang begitu terluka?

kau tahu, bahkan sekalipun, kau tak menyembuhkan,
bahkan dengan berbagai cara kau coba,
kau tak pernah berusaha menyembuhkan,
hanya saja aku tak mau berlarut-larut,
menyalahkanmu atas sakit hatiku,

tapi kenapa selalu kamu meledak dengan kata-kata 'itu'
pantaskah?
lalu ketika aku bersalah kkau tibakan aku dengan kata-kata itu?
hei bukankah berkali-kali ku bilang,
aku cemburu padanya?

aku memang salah,
salah melangkah menghadapi emosiku,
sehingga berbuat semauku,
tapi haruskah kau tikam aku dengan berkata 'itu'
lagi dan lagi.
selalu.

aku tau, diluar sana ada jutaan orang yg siap menggantikanku,
tapi lantas apakah harus kau bilang padaku begitu?
aku tau kamu tak pernah main-man dengan yang kau ucapkan.
selalu mungkin hal itu akan terjadi,
tapi,
tak cukupkah dengan kau bicara 'itu' padaku?
aku ini wanita, semakin kau berkeras, aku akan patah
aku bukan meminta kau mengerti diriku,
walaupun kenyataannya seperti itu,

aku memang salah, tapi tak bisakah kau jaga setiap katamu?
tak bisakah?
aku mengerti ini kamu.
tapi

malam menyendiri dengan tangis terurai,

No comments:

Post a Comment